Binjai – Subsidi Penjualan motor listrik di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu penyebab utama yang disorot pelaku industri adalah ketidakjelasan kebijakan subsidi pemerintah terhadap kendaraan listrik roda dua.
Subsidi motor listrik yang awalnya digadang-gadang mampu menjadi pendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan kini justru menjadi polemik.
Pemerintah memang telah mengumumkan insentif berupa subsidi sebesar Rp 7 juta per unit motor listrik untuk konsumen tertentu.
Namun, dalam praktiknya, penyaluran subsidi dinilai tidak merata dan menyulitkan banyak konsumen.
Beberapa dealer mengeluhkan proses administrasi yang rumit serta persyaratan penerima subsidi yang terlalu ketat.
Alhasil, banyak konsumen yang batal membeli karena tidak memenuhi kriteria, meskipun sudah berminat sejak awal.
Di sisi lain, produsen juga dirugikan
“Kebijakan subsidi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak konsumen bingung dan kecewa,” ujar seorang pemilik dealer motor listrik di Jakarta.
Akibat ketidakpastian ini, sebagian produsen bahkan memilih menahan produksi atau menghentikan sementara lini motor listrik mereka.
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menunjukkan penurunan penjualan mencapai lebih dari 45% sejak kuartal kedua 2025.

Baca Juga : Ketua Ormas GRIB Jaya Sumut Dieksekusi Usai Kuasai 80 Hektare Lahan Sawit, PTPN II Rugi Rp 41 M
Padahal, awal tahun ini, industri sempat optimis bahwa target penjualan 250.000 unit motor listrik bisa tercapai.
Namun lemahnya implementasi di lapangan membuat semangat itu meredup di kalangan konsumen dan pelaku industri.
Banyak masyarakat di daerah bahkan tidak tahu bahwa subsidi motor listrik tersedia atau bagaimana cara mengaksesnya.
Kebijakan ini pun dinilai tidak inklusif karena hanya menyasar konsumen tertentu, seperti penerima
“Kalau hanya sebagian orang yang bisa dapat subsidi, bagaimana dengan masyarakat menengah yang ingin beralih ke kendaraan listrik?” kritik seorang pengamat kebijakan transportasi.
Ketidakpastian ini juga berdampak pada ekosistem industri kendaraan listrik secara keseluruhan.
Pabrikan baterai, vendor suku cadang, hingga bengkel konversi listrik turut merasakan penurunan aktivitas dan omzet.







