Binjai – Jerman Kembalikan Mesir menyerukan agar karya seni ikon mereka, patung dada (bust) Ratu Nefertiti yang saat ini berada di Neues Museum, Berlin, Jerman, dikembalikan ke tanah air mereka. Permintaan ini mendapat tanggapan yang kuat dari kedua belah pihak — namun hingga saat ini belum ada kejelasan bahwa Jerman akan menyerahkan patung tersebut.
Latar Belakang & Status Patung
Patung tersebut ditemukan dalam penggalian di Tell el‑Amarna, Mesir, pada tahun 1912 oleh tim Jerman.

Baca Juga : Rencana Perjalanan Ibadah Haji 2026, Simak Jadwalnya
Tahun 1913 hasil temuan tersebut dikirim ke Jerman, dan patung tersebut sejak saat itu menjadi koleksi museum Berlin.
Jerman menyatakan bahwa memperoleh patung itu secara sah, melalui pembagian hasil penggalian yang lazim pada masa itu.
Mesir menilai bahwa patung tersebut diangkut dari Mesir secara tidak benar dan menuntut pengembalian sebagai bagian dari warisan budaya mereka.
Permintaan Pengembalian & Sikap Kedua Negera
Pada September 2024, arkeolog terkemuka Mesir Zahi Hawass meluncurkan petisi internasional yang menuntut agar patung Nefertiti dikembalikan ke Mesir.
Mesir menganggap bahwa patung itu harus kembali agar bisa dipamerkan di museum besar baru mereka, yaitu Grand Egyptian Museum (GEM).
Mengapa Patung Ini Begitu Penting?
Seni dan warisan: Patung Nefertiti bukan sekadar artefak arkeologi — ia adalah simbol keindahan dan kebudayaan Mesir Kuno, serta mendapat status ikonik di dunia internasional.
Persoalan hukum dan moral: Kasus ini banyak dibicarakan sebagai bagian dari debat global tentang hak atas artefak kolonial, repatriasi, dan keadilan budaya.
Nilai ekonomi dan citra: Patung tersebut memiliki nilai estimasi sangat tinggi (ratusan juta Euro) dan menarik banyak pengunjung di museum Jerman.
Tantangan dan Hambatan dalam Pengembalian
Bukti kepemilikan: Pihak Jerman menyatakan bahwa Mesir tidak bisa membuktikan bahwa patung itu ‘dicuri’ atau diambil secara ilegal.
Diplomasi dan legalitas: Permintaan Mesir belum selalu disampaikan melalui saluran resmi pemerintahan ke pemerintahan (government to government), yang membuat proses diplomatis menjadi kompleks.
Kerentanan fisik artefak: Ada klaim bahwa patung tersebut sangat rapuh sehingga pemindahan atau pengembalian secara fisik membawa risiko tinggi. Hal ini sering dijadikan alasan pihak museum enggan memindahkannya.
Implikasi dari Proses Ini
Untuk Mesir, keberhasilan repatriasi bisa memperkuat identitas bangsa, mendongkrak pariwisata budaya, dan menunjukkan keberhasilan perlindungan warisan budaya.
Kesimpulan
Hingga kini, tidak tercapai kesepakatan bahwa patung tersebut akan dikembalikan.



![menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025--1742369538703_169[1] Zulhas Janji Bereskan](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025-1742369538703_1691-148x111.jpeg)
![bank-mandiri-1765716933059_169[1] Bank Mandiri Kembali](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/bank-mandiri-1765716933059_1691-148x111.jpg)
![1765170038267-5olhwf[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/1765170038267-5olhwf1-148x111.webp)