Binjai – Harga Daging Sapi di Pasar Tavip Binjai, Sumatera Utara, mengalami lonjakan yang signifikan. Kenaikan harga ini membuat banyak konsumen merasa terkejut dan kesulitan untuk membeli kebutuhan pangan pokok mereka. Daging sapi, yang selama ini menjadi salah satu sumber protein utama bagi banyak keluarga, kini menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat di Binjai.
Harga daging sapi di pasar tradisional ini melonjak hingga mencapai Rp 160.000 hingga Rp 170.000 per kilogram. Padahal, sebelum kenaikan harga ini, harga daging sapi hanya berkisar antara Rp 130.000 hingga Rp 140.000 per kilogram. Lonjakan harga yang cukup tajam ini memengaruhi daya beli masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada konsumsi daging sapi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Daging Sapi

Baca Juga : Sampah Menggunung di Pinggir Jalan Dekat Persimpangan Gerbang Tol Helvetia
Tingginya harga daging sapi di Pasar Tavip Binjai disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berhubungan. Salah satu penyebab utama adalah meningkatnya biaya pengiriman dan distribusi daging sapi. Akibat inflasi dan kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi untuk mendistribusikan daging sapi dari daerah peternakan ke pasar menjadi lebih tinggi. Hal ini menyebabkan ikut terdorong naik.
Selain itu, pasokan daging sapi dari peternakan juga terbatas. Beberapa peternak menyebutkan bahwa stok sapi yang tersedia kini lebih sedikit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah pandemi yang sempat melanda beberapa waktu lalu, yang menyebabkan sejumlah peternakan mengalami penurunan populasi sapi akibat terbatasnya pasokan pakan dan biaya operasional yang tinggi.
“Karena pasokan sapi terbatas, pun ikut melonjak. Kami sebagai pedagang juga terpaksa menaikkan harga jual untuk menutupi biaya distribusi yang semakin tinggi,” ungkap Rahmat, seorang pedagang daging sapi di Pasar Tavip Binjai.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Masyarakat Binjai
Kenaikan yang tajam ini tentu mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Banyak keluarga yang sebelumnya rutin membeli daging sapi untuk kebutuhan harian kini terpaksa mengurangi konsumsi atau beralih ke sumber protein lain, seperti ayam atau ikan.
“Sebelumnya saya selalu membeli daging sapi untuk keluarga, karena kami terbiasa dengan menu olahan daging. Tapi dengan harga yang melambung tinggi seperti ini, saya jadi bingung. Mau beli daging sapi, uangnya nggak cukup, sementara anak-anak juga butuh protein yang cukup,” ujar Siti, seorang ibu rumah tangga di Binjai.
Siti mengungkapkan bahwa selama ini keluarganya sangat mengandalkan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani mereka. Namun, dengan harga yang semakin mahal, mereka terpaksa beralih ke bahan makanan lain yang lebih terjangkau, meskipun kualitas nutrisinya tidak setara dengan daging sapi.
Kenaikan juga berdampak pada usaha warung makan dan rumah makan kecil di Binjai. Banyak pedagang makanan yang terpaksa menaikkan harga menu daging sapi mereka, yang kemudian berisiko mengurangi jumlah pelanggan. “Kami terpaksa menaikkan harga menu yang menggunakan daging sapi, karena harga daging yang kami beli sudah tinggi. Tapi, ini justru membuat pelanggan kami berkurang,” ujar Andi, pemilik rumah makan di Binjai.
Sikap Pedagang dan Pemerintah terhadap Lonjakan Harga
Para pedagang daging sapi di Pasar Tavip Binjai mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan harga jual, karena harga beli dari pemasok atau distributor juga terus naik. Mereka berharap bisa segera stabil agar mereka tidak terus-terusan mengubah harga jual dan membuat konsumen semakin kesulitan.
“Tidak ada pilihan lain bagi kami. Kami membeli dari pemasok dengan harga yang lebih tinggi, jadi kami terpaksa jual dengan harga yang lebih mahal juga. Kalau tidak, kami yang akan rugi,” tambah Rahmat, pedagang daging sapi lainnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Binjai melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Binjai mengaku telah menerima laporan tentang lonjakan di pasar-pasar tradisional. Pihak pemerintah menjelaskan bahwa mereka akan terus memantau perkembangan harga bahan pangan, termasuk daging sapi, dan berkoordinasi dengan para peternak dan distributor untuk mencari solusi yang dapat menurunkan harga.
“Kami akan terus memantau situasi ini dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Kami juga sedang mencari solusi untuk menstabilkan agar tetap terjangkau bagi masyarakat,” ujar Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Binjai, Taufik Hidayat, dalam wawancara dengan wartawan.
Taufik juga menambahkan bahwa pemerintah akan berupaya untuk meningkatkan pasokan daging sapi ke pasar tradisional dengan membuka jalur distribusi yang lebih efisien.
Reaksi dari Masyarakat: Solusi Alternatif dan Pembelian Daging Terbatas
Sejumlah ibu rumah tangga dan konsumen lainnya mengungkapkan bahwa mereka masih tetap membeli daging sapi, namun dalam jumlah yang lebih sedikit dan hanya pada kesempatan tertentu.
“Biasanya saya beli satu kilogram daging sapi dalam seminggu, tapi sekarang hanya bisa beli setengah kilogram. Itu pun kalau ada uang lebih,” kata Siti, ibu rumah tangga di Binjai.
Beberapa warga juga mulai mencari alternatif protein yang lebih terjangkau, seperti tempe, tahu, atau produk olahan ikan. “Kami harus pintar-pintar memilih bahan makanan. Tahu dan tempe bisa jadi alternatif yang lebih murah dan tetap sehat,” kata Lilis, seorang warga Binjai yang mengaku kini beralih ke sumber protein nabati.
Namun, meskipun alternatif pengganti daging sapi tersedia, banyak yang merasa bahwa kualitas gizi yang diberikan tidak setara
Ke depan, masyarakat Binjai masih berharap agar dapat kembali stabil. Bagi banyak keluarga, daging sapi adalah bagian penting dari pola makan yang sehat dan bergizi
Kesimpulan: Tantangan Ekonomi yang Membebani Warga Binjai

![menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025--1742369538703_169[1] Zulhas Janji Bereskan](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025-1742369538703_1691-148x111.jpeg)
![bank-mandiri-1765716933059_169[1] Bank Mandiri Kembali](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/bank-mandiri-1765716933059_1691-148x111.jpg)
![1765170038267-5olhwf[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/1765170038267-5olhwf1-148x111.webp)
![513212_12203728112025_44[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/513212_12203728112025_441-148x111.jpeg)
![013449600_1765099551-Pengungsian_Aceh[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/013449600_1765099551-Pengungsian_Aceh1-148x111.jpg)