Binjai – Berawal dari Cekcok siswi SMP berinisial NA (14), yang tinggal di kawasan Medan Kota, diduga terlibat dalam pembunuhan ibu kandungnya, SA (42). Peristiwa yang sangat mengejutkan ini terjadi setelah terjadi cekcok hebat antara keduanya, yang diduga berujung pada tindakan kekerasan fatal.
Kejadian tersebut mengejutkan masyarakat setempat, karena NA yang masih di bawah umur itu diduga terlibat langsung dalam kematian ibunya. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menggali motif di balik aksi tragis ini.
Berawal dari Cekcok Kronologi Kejadian
Menurut keterangan sejumlah saksi peristiwa tersebut bermula pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, ketika NA dan ibunya terlibat cekcok hebat di rumah mereka. Cekcok tersebut diduga disebabkan oleh masalah sepele, yang akhirnya berkembang menjadi perdebatan yang lebih serius.

Baca Juga : Harga Daging Sapi di Pasar Tavip Binjai Melonjak, Daya Beli Warga Turun
Beberapa tetangga yang mendengar keributan di rumah korban mengungkapkan bahwa mereka sempat mendengar suara teriakan dan benda-benda yang jatuh di dalam rumah. Namun, mereka mengira itu hanya pertengkaran biasa antara ibu dan anak, yang sering terjadi dalam keluarga. Tak lama kemudian, ketenangan yang sempat terbangun kembali, terganggu oleh suara-suara aneh yang datang dari rumah korban.
Sekitar pukul 09.00 WIB, tetangga yang curiga dengan situasi tersebut mulai mendekat ke rumah korban dan mendapati pintu rumah terkunci. Mereka kemudian menghubungi pihak berwajib setelah beberapa kali memanggil namun tidak mendapat jawaban. Petugas kepolisian yang tiba di lokasi langsung memaksa masuk ke dalam rumah dan menemukan SA dalam kondisi terluka parah. Setelah diperiksa, diketahui bahwa SA sudah tidak bernyawa.
Korban diduga tmendengar suara teriakanmendengar suara teriakanmendengar suara teriakanmendengar suara teriakanewas akibat luka berat di bagian kepala dan leher, yang menurut hasil awal pemeriksaan, kemungkinan besar disebabkan oleh senjata tajam. NA, sang anak, ditemukan di dalam rumah dalam kondisi terkejut dan masih dalam keadaan panik.
Penangkapan dan Pengakuan Siswi SMP
Setelah kejadian tersebut, NA langsung dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut. Awalnya, NA tidak memberikan penjelasan yang jelas mengenai peristiwa itu, namun setelah beberapa jam diperiksa, NA akhirnya mengakui bahwa ia terlibat dalam kematian ibunya.
Menurut keterangan polisi, NA mengungkapkan bahwa cekcok antara dirinya dan ibunya bermula dari masalah sekolah. NA yang selama ini mengalami tekanan dari sang ibu terkait prestasi akademisnya, merasa tertekan dan marah. Dalam perdebatan yang semakin memanas, NA merasa emosinya tidak terkendali dan tanpa sadar melukai ibunya menggunakan sebuah pisau dapur yang ada di dekatnya.
“Pelaku mengaku dalam keadaan emosi dan marah, ia mengambil pisau yang ada di meja makan dan langsung menyerang ibunya. Tidak ada niat awal untuk membunuh, namun kejadian ini berkembang sangat cepat. Pelaku mengaku tidak ingat dengan jelas bagaimana ia bisa sampai menyebabkan luka yang fatal pada korban,” ujar AKP Siti Maesaroh, Kapolsek Medan Kota.
NA, yang masih di bawah umur, tampak sangat terpukul setelah menyadari apa yang telah ia lakukan. Pihak kepolisian langsung memanggil psikolog untuk mendampingi NA selama proses pemeriksaan. Polisi juga menegaskan bahwa kasus ini akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, namun tetap mempertimbangkan usia pelaku yang masih di bawah umur.
Penyebab Cekcok: Masalah Keluarga dan Pendidikan
Keterangan dari beberapa tetangga dan keluarga terdekat menyebutkan bahwa hubungan antara NA dan ibunya, SA, memang cukup rumit. SA dikenal sebagai seorang ibu yang sangat menuntut prestasi anaknya. NA, yang sejak beberapa bulan terakhir kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah, merasa tertekan dengan tuntutan tersebut. Hal ini sering menimbulkan cekcok antara keduanya.
“Saya tahu NA sering di-marahi ibunya soal nilai sekolahnya. Tapi saya tidak menyangka masalah itu bisa berujung seperti ini. Saya lihat, memang SA agak keras dalam mendidik anaknya. Mungkin itu yang menyebabkan NA merasa tertekan,” ujar seorang tetangga yang tidak ingin disebutkan namanya.
NA yang baru saja memasuki usia remaja, ternyata belum bisa mengendalikan emosinya. Bagi banyak remaja seusianya, hubungan dengan orang tua bisa menjadi sumber konflik. Hal ini ditambah dengan tekanan sosial dan akademik yang sering dihadapi para remaja, terutama dalam hal prestasi di sekolah. Namun, kejadian ini memperlihatkan betapa pentingnya peran orang tua dalam mendukung perkembangan emosional dan mental anak-anak mereka.
Respons dari Pihak Kepolisian dan Pemerintah
Kapolsek Medan Kota, AKP Siti Maesaroh, menyatakan bahwa meskipun NA masih berusia remaja, ia akan tetap diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku untuk anak di bawah umur. Namun, karena NA adalah pelaku yang masih berusia 14 tahun, polisi akan memberikan pendampingan dari psikolog dan berkoordinasi dengan lembaga perlindungan anak untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kami memahami bahwa pelaku masih anak-anak, dan tentu saja kami akan melibatkan pihak psikolog dan pihak terkait untuk memastikan proses hukum ini berjalan dengan mempertimbangkan usia dan kondisi psikologisnya. Kami juga akan berupaya untuk mendalami lebih lanjut apakah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kejadian ini,” kata AKP Siti.
Sementara itu, Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Sosial juga memberikan perhatian terhadap kasus ini. Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Drs. H. Firdaus, menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan sosial kepada keluarga korban dan juga akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan lembaga terkait untuk membantu NA dalam proses pemulihan psikologis.
“Kasus ini adalah sebuah tragedi besar, dan kami sangat berduka atas kejadian ini. Kami akan memberikan perhatian penuh kepada keluarga korban dan memastikan bahwa NA mendapatkan pendampingan yang dibutuhkan,” ujar Firdaus.
Berawal dari Cekcok Harapan untuk Pemulihan dan Pencegahan Kasus Serupa
Peristiwa tragis ini membuka kembali perbincangan mengenai pentingnya komunikasi dalam keluarga, terutama dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh remaja. Banyak ahli psikologi anak yang menekankan pentingnya orang tua untuk lebih memahami kondisi emosional anak-anak mereka, terutama saat mereka memasuki usia remaja yang penuh dengan perubahan.
Pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, terutama yang melibatkan anak-anak, harus menjadi perhatian bersama. Pihak terkait diharapkan lebih proaktif dalam memberikan edukasi kepada orang tua dan anak-anak mengenai pengelolaan emosi, komunikasi yang sehat dalam keluarga, serta pentingnya dukungan sosial bagi remaja yang sedang menghadapi masalah di sekolah atau di rumah.
Kesimpulan
Kasus pembunuhan ibu oleh anak kandung ini menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Bagi NA, yang terjerat dalam sebuah peristiwa yang tak terduga, masa depannya kini terancam. Sementara bagi keluarga korban, kehilangan seorang ibu adalah pukulan berat. Namun, kejadian ini juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga hubungan yang sehat dalam keluarga, serta memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang menghadapi masa-masa sulit dalam hidup mereka.

![menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025--1742369538703_169[1] Zulhas Janji Bereskan](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/menteri-koordinator-bidang-pangan-ri-zulkifli-hasan-menyampaikan-paparan-dalam-acara-food-summit-2025-di-jakarta-rabu-1932025-1742369538703_1691-148x111.jpeg)
![bank-mandiri-1765716933059_169[1] Bank Mandiri Kembali](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/bank-mandiri-1765716933059_1691-148x111.jpg)
![1765170038267-5olhwf[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/1765170038267-5olhwf1-148x111.webp)
![513212_12203728112025_44[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/513212_12203728112025_441-148x111.jpeg)
![013449600_1765099551-Pengungsian_Aceh[1]](https://isiserver.com/wp-content/uploads/2025/12/013449600_1765099551-Pengungsian_Aceh1-148x111.jpg)